ShareThis

0
Thursday, 1 November 2012 Post By: RIZKI

CONTOH ANALISIS KASUS-PENGANTAR PENDIDIKAN


Selasa, 07/08/2012 15:01 WIB
6 Siswa SMP Ini Ditangkap karena Curi 33 Sepeda Motor
Andi Fatima – detikNews
Kendari Polisi menangkap 12 pencuri sepeda motor di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara. Enam diantaranya adalah siswa SMP dan 4 lainnya anak putus sekolah. Komplotan ini telah menggasak 33 sepeda motor dalam waktu yang tak terlalu lama.

Kapolresta Kendari AKBP Yuyun Yudhantara mengatakan, meski menggunakan alat sederhana, ke-10 siswa tersebut 'bekerja' cukup terorganisir. Saat beraksi, mereka terbagi dalam tiga kelompok. Saat ini, polisi masih mengejar otak dibalik kejahatan tersebut.

"Masih pemeriksaan tersangka dan anggota sedang memburu otak (kejahatan)," kata Yudhantara di Mapolres Kendari, Selasa (7/8/2012).

Sementara itu, salah satu pelaku berinisial R (16) mengaku mencuri motor dengan cara mendorong dan menggunting kabel kunci kontaknya. "Saya diajak teman waktu SD curi motor, kemudian kami bawa ke Yusuf selaku bos," ungkapnya.

Pelaku yang masih terdaftar sebagai pelajar di salah satu SMP di Kendari menyatakan, duit pembagian dari curanmor digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.

Berdasarkan pemeriksaan, kelompok ini belum lama beroperasi, baru beberapa bulan mencari mangsa. Namun hasilnya cukup luar biasa, karena mereka bisa mencuri 33 motor berbagai merek.

(try/try)


Analisis Kasus Berdasarkan Psikologi Pendidikan
Kasus tersebut merupakan contoh dari penyimpangan sosial yang dilakukan oleh pelajar dibawah umur yang merupakan kategori kriminal. Tindakan tersebut dilakukan oleh 12 pelaku, 6 diantaranya pelajar SMP dan 4 lainnya putus sekolah. Kasus ini terjadi pada anak yang terdapat pada Tahap Operasional Formal, periode terakhir perkembangan kognitif dalam teori Piaget. Tahap ini mulai dialami anak dalam usia sebelas tahun (saat pubertas) dan terus berlanjut sampai dewasa. Karakteristik tahap ini adalah diperolehnya kemampuan untuk berpikir secara abstrak, menalar secara logis, dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia. Dalam tahapan ini, seseorang dapat memahami hal-hal seperti cinta, bukti logis, dan nilai. Meski sudah memasuki tahap menuju kedewasaan, anak seusia itu masih dalam proses pencarian jati diri dan mulai menginginkan pengakuan  dari orang tua. Anak menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia, informasi yang salah mengakibatkan anak menganggap hal yang buruk dianggap benar, misal mencuri tersebut dijadikan sebagai bukti bahwa anak bisa memperoleh uang sendiri dan tidak minta pada orang tuanya.
Pergaulan anak dengan sebayanya atau lingkungan bermain yang salah mengakibatkan perkembangaan kepribadian anak menjadi pribadi yang tidak baik pula. Anak tersebut bergaul dengan anak putus sekolah yang mengakibatkan dirinya mengikuti apa yang dilakukan oleh anak tersebut. John Locke(1632-1704) mengajarkan bahwa perkembangan pribadi ditentukan oleh faktor-faktor lingkungan, terutama pendidikan. John Locke berkesimpulan bahwa setiap individu lahir sebagai kertas putih, dan lingkungan itulah yang "menulisi" kertas putih itu. Meski belum tentu yang mengajak untuk melakukan kejahatan anak yang putus sekolah tersebut, setidaknya anak yang putus sekolah tersebut jelas pendidikannya kurang dan mungkin melakukan hal-hal yang buruk karena kurangnya pendidikan moral yang baik. Pendidikan yang tanpa ada pembimbing yang mengarahkan.
Pendidikan yang diperoleh pelajar SMP tersebut mungkin kurang ditanamkannya nilai-nilai kebaikan dan pendidikan karakter, karena pendidikan sekarang ini hanya menomor satukan nilai daripada membentuk manusia yang cerdas dan berkarakter. Pendidikan yang baik menurut Piaget yang menjabarkan implikasi teori kognitif pada pendidikan yaitu
     1) Memusatkan perhatian kepada cara berpikir atau proses mental anak, tidak sekedar kepada hasilnya. Guru harus memahami proses yang digunakan anak sehingga sampai pada hasil tersebut. Pengalaman – pengalaman belajar yang sesuai dikembangkan dengan memperhatikan tahap fungsi kognitif dan jika guru penuh perhatian terhadap Pendekatan yang digunakan siswa untuk sampai pada kesimpulan tertentu, barulah dapat dikatakan guru berada dalam posisi memberikan pengalaman yang dimaksud, 
2) Mengutamakan peran siswa dalam berinisiatif sendiri dan keterlibatan aktif dalam kegiatan belajar. Dalam kelas, Piaget menekankan bahwa pengajaran pengetahuan jadi ( ready made knowledge ) anak didorong menentukan sendiri pengetahuan itu melalui interaksi spontan dengan lingkungan, 
3) Memaklumi akan adanya perbedaan individual dalam hal kemajuan perkembangan. Teori Piaget mengasumsikan bahwa seluruh siswa tumbuh dan melewati urutan perkembangan yang sama, namun pertumbungan itu berlangsung pada kecepatan berbeda. Oleh karena itu guru harus melakukan upaya untuk mengatur aktivitas di dalam kelas yang terdiri dari individu – individu ke dalam bentuk kelompok – kelompok kecil siswa daripada aktivitas dalam bentuk klasikal, 
4) Mengutamakan peran siswa untuk saling berinteraksi. Menurut Piaget, pertukaran gagasan – gagasan tidak dapat dihindari untuk perkembangan penalaran. Walaupun penalaran tidak dapat diajarkan secara langsung, perkembangannya dapat disimulasi.
Dengan seperti itu anak akan lebih tertanam karakter yang baik dan cerdas sehingga terhindar dari penyimpangan dan gagalnya proses pembejalaran karena kurannya nilai dalam setiap gerak-gerik siswa.
Latar belakang kasus penyimpangan pelajar tersebut adalah untuk pemenuhan sehari-hari, mungkin itu terjadi karena faktor ekonomi atau memang faktor anak yang selalu tidak puas dengan apa yang telah diberikan orang tuanya. Keinginan anak untuk menonjol di pergaulannya dengan barang-barang mewah atau mempunyai uang banyak sehingga dapat membelikan teman-teman sepergaulannya makanan. Pencurian ini juga mungkin saja berlatar Kleptomania. Kleptomania adalahdorongan tak tertahankan untuk mencari item yang kadang bagi si penderita tidak benar-benar dibutuhkan.
Untuk mengatasi kenakalan dan penyimpangan remaja tersebut dapat dilakukan pendekatan-pendekatan kepada anak dengan menggali informasi dari anak kenapa hal tersebut bisa terjadi, bagaimana alternatif terbaik untuk mengatasi masalah tersebut. Mensinkronkan antara kepribadian anak dengan lingkungan. Penyediaan lingkungan yang baik dan kondusif bagi perkembangan anak adalah hal yang mutlak. Lingkungan pendidikan yang menyenangkan dan tidak membuat anak setres. Stres dapat memicu penyakit jiwa yang lain sehingga mengakibatkan anak berkembang dengan baik dan maksimal. Pemberian motivasi kepada anak agar tidak melakukan hal yang tidak baik lagi. Motivasi yang baik adalah motivasi yang berasal dari diri sendiri. Namun dalam kasus ini motivasi dari dalam diri tidak mungkin akan muncul karena jiwa anak dan kepribadiannya yang sudah terbentuk demikian. Pada hal ini keluarga dan lingkungan menjadi  sumber motivasi yang sangat dibutuhkan untuk anak. Memberikan keyakinan bahya dia bisa menonjol, bisa diakui tanpa harus melakukan hal buruk itu. Pemberian motivasi pada anak secara terus menerus akhirnya menumbuhkan motivasi dari dalam diri anak. Motivasi ini disebut juga internal motivation, motivasi ini adalah motivasi terbaik karena merupakan kesadaran diri agar tidak melakukan tindakan yang merugikan diri sendiri dan orang lain tersebut.



Terima kasih sudah membaca postingan saya. Komentar dengan sopan dan saya akan sangat berterima kasih. :)

sRcahyanti

Copyright Reserved CATPOSTER 2010-2012.
Design by: Bingn | Blogger Templates by Blofger Template Place | supported by One-4-All